Sunday, February 26, 2012

I'll Always Be At Your Side, chp:11

by: admin vz
enjoy~


...


Eunhyuk berlari secepat mungkin, nafasnya terengah-engah karena sudah capek tapi masih saja berlari. “Eunhyuk! tunggu! Kamu terlalu cepat!”teriak Yuri yang ikut lari tapi tertinggal jauh. Eunhyuk tidak mempeduli Yuri. Dia terus berlari menuju depan gerbang.

Sampainya di gerbang. Eunhyuk berhenti sebentar. Mengambil nafas kemudian menuju ke tempat kejadian. Diterobosnya orang-rang yang berkumpul. Matanya melebar, darah dimana-mana, darah yg begitu banyak. Tanpa disadari badan Eunhyuk bergetar hebat. Yuri mencapai bahu Eunhyuk, “kenapa Hyuk? Kamu tidak apa-apa?” tanya Yuri khawatir.

“da...darah... darah Sunny” ucap Eunhyuk terbata-bata. Yuri juga ikut syok. Eunhyuk bertanya kepada seseorang, “dimana perempuan yang ditabrak tadi?” tanya Eunhyuk. “su...sudah dibawa ambulans” jawabnya. Bola mata Eunhyuk menjelajahi semua tempat, kemudian dia melihat seorang yang berdiri tidak tegak, sempoyong-poyong, dahinya berdarah. Eunhyuk tebak dialah orang yang menabrak Sunny.
Tidak dipeduli orang itu dikelilingi polisi, dia langsung mencengkram kerah orang itu, “bedebah! Mati saja kau!” bentak Eunhyuk, serangan tinju mendarat di pipi orang itu. Dia masih mau serang tapi ditahan polisi, “tenangkan dirimu!” perintah polisi. “aku mau kamu mati! Kalau terjadi sesuatu sama Sunny kamu mati! Ingat itu!” bentak Eunhyuk, dia memberontak seperti tidak puas meninju orang itu satu kali saja. “Eunhyuk! hentikan!” teriak Yuri. Setelah agak tenang, Yuri membungkuk meminta maaf kepada polisi bagi pihak Eunhyuk. “jjeongmal mianheyo”

“Yuri, kita ke rumah sakit sekarang” desak Eunhyuk, ditariknya Yuri segera panggil taksi dan menuju rumah sakit. 

...

...

Taksi sesampainya didepan rumah sakit Eunhyuk langsung melesat keluar sebelum membayar. “tunggu! Kamu belum bayar! Woi!” teriak paman itu. “mianhae ahjussi, kita lagi buru-buru, ini uangnya tidak usah kembalian lagi. Gomawo yo!” Yuri juga langsung keluar mengikuti Eunhyuk.

Eunhyuk berlari tidak tau arah, akhirnya dia ke resepsionis. “Lee Soon Kyu, ruang pesakit itu mana?” tanya Eunhyuk tidak sabaran. “Lee Soon Kyu? Dia belum lama sampai. Dia lagi keadaan kritis dan sekarang lagi menjalankan operasi. Kamu kekiri terus lurus, disana ruang operasinya” jelas suster itu. “Eunhyuk!” panggil Yuri. “gomawo” jawab Eunhyuk singkat langsung segera ke ruang operasi.
Sunny...

Yuri terpaksa kejar Eunhyuk terus, walaupun sudah capek. Tapi daripada tersesat. “tunggu aku Eunhyuk” panggil Yuri.
...

Sunny, kamu harus tidak apa-apa. Sun...Sunny... kamu belum bersama Eunhyuk... ti...tidak boleh mati. Sunny-ya,

Donghae duduk di tempat duduk yang khusus orang-orang yang menunggu. Dia mengepal kedua tangannya, kepala tertunduk dan dua kepal tangannya itu dibawah dahi. Mulutnya terus bergumam nama Sunny. Tubuhnya bergetar hebat, kalau melihat lebih dekat, muka Donghae basah.

Tap tap tap

Eunhyuk menabrak pintu operasi yang terbuat dari besi. Dahinya ternempel disana, tidak dipeduli dahinya yang dingin karena besi. Pintu itu tidak mau terbuka. “Sunny!” panggil Eunhyuk.
Eunhyuk menoleh kekiri, kosong, menoleh ke kanan, disana Donghae duduk tidak berdaya dengan tubuh yang bergetar seperti tubuhnya sekarang. Eunhyuk menahan emosi, tangannya mengepal ingin sekali dia menghajar Donghae.

Tidak ada dia disisi Sunny, baru saja kemarin memutuskan hubungan dengan Sunny jadi sekarang yang Sunny ada hanya Donghae. tapi hari ini, langsung terjadinya kejadian yang orang-orang tidak mau. Eunhyuk berjalan dengan pelan, mendekat Donghae.

“Donghae” panggil Eunhyuk pelan. 

“...”

Tidak ada tanggapan. “Donghae, angkat kepalamu” perintah Eunhyuk, suaranya normal.

“...”

Lagi-lagi tidak ada tanggapan. “Donghae-ya!” bentak Eunhyuk. “angkat kepalamu, neo pabo!” bentak Eunhyuk tidak bisa mengontrol emosinya lagi. “diam mulutmu” gumam Donghae dengan volume kecil, tapi terdengar cukup jelas ditelinga Eunhyuk.

Yuri yang sudah dibelakang Eunhyuk, dia menaruh tangannya disebelah bahu Eunhyuk, “sudahlah Eunhyuk, sekarang kita seharusnya berdoa agar Sunny selamat” saran Yuri. Yuri tau kalau Donghae sangat sakit sekarang, begitu rapuh, begitu hancur. Seperti Sunny ketika melihat kedekatannya dengan Eunhyuk yang membuatnya sakit.

“mwo a?! Angkat kepalamu sekarang juga!” bentak Eunhyuk lagi, emosinya meluap-luap mendengar apa yang dikata Donghae tadi. Yuri tersentak, “kita lagi di rumah sakit Hyuk! Jaga sikap mu!” kata Yuri galak.
“aku sudah tidak ada di sisi Sunny, seharusnya kamu menggantikan aku. Tapi ketika aku meninggalkan Sunny malah kejadian ini yang terjadi?!” Donghae masih menunduk kepalanya. Eunhyuk menggeram, dia menarik kerah Donghae membuatnya berdiri kemudian menghantam Donghae ke dinding, “argh!” ringis Donghae kesakitan, kepalanya berdenyut-denyut karena kepala nya terhantam di dinding cukup keras.

Merasa tidak senang dengan perbuatan Eunhyuk, Donghae pun mencengkram kerah Eunhyuk. “lepaskan aku!” perintah Donghae. Eunhyuk menghantam kepala Donghae kedinding lagi. “kurang ajar!” 

Buagh!

Tinjuan yang keras menuju pipi kiri Eunhyuk. “kyaaa!” teriak Yuri, darah mengalir di bibir Eunhyuk. “hentikan!” mohon Yuri. Dia segera menjauhkan dua sahabat itu yang sedang berantam. “kamu seharusnya jaga sunny! Tapi kenapa begini!” teriak Eunhyuk sesudah jauh dari Donghae. air mata mengalir begitu saja di mata Donghae, “kamu pikir aku mau kejadian ini terjadi?! Iya! semua aku yang harus jaga Sunny! Tapi semenjak kamu sama Yuri kamu jadi tidak pernah berada di sisi Sunny!” serang Donghae. air mata Eunhyuk mengalir, “kalau terjadi sesuatu sama Sunny kamu jangan pikir kamu masih bisa hidup” ancam Eunhyuk.
Terdengar keributan yang dahsyat didepan ruang operasi. Akhirnya beberapa suster datang menghentikan mereka. “Sunny” gumam Eunhyuk dan Donghae bersamaan, kepala mereka tertunduk, hanya Sunny dan senyumannya yang ada didalam benak mereka.

Yuri yang disana hanya bisa menatap mereka dua dengan perasaan bersalah. Dia mulai berpikir seharusnya dari pertama dia tidak menerima Eunhyuk, kalau tidak kejadian seperti ini tidak akan berlaku. Tapi semuanya sudah terlambat. Regrets always come late.

...

Dua sahabat itu dirawat karena bibir Eunhyuk yang berdarah, dan kepala Donghae yang sangat sakit tidak bisa berhenti. Jadi yang ada di tempat tunggu hanya Yuri. Yuri jalan bolak-balik, duduk, perasaannya tidak tenang. Operasi sudah berjalan dari 3jam yang lalu, tapi belum selesai juga.

Lampu led ‘OPERASI’ mati. Yuri langsung berdiri didepan pintu besi itu. Pintu besi itu terbuka, seorang dokter keluar. “Dokter, Soon... Soon Kyu, bagaimana dia?” tanya Yuri khawatir. “kamu...?” dokter itu tampak bingung. “naega... chingu-ya” jawab Yuri. Dokter itu melihat sekeliling, “kamu tidak mengkontak keluarga Soon Kyu dulu?” tanya dokter itu. Yuri menepuk dahinya, “Donghae belum panggil ya” kata batin Yuri.

“mianhae, kejadian disekolah, jadi aku teman baiknya terlalu khawatir sampai lupa mengkontak keluarganya. Tapi... em, kalau boleh tau keadaan Soon Kyu...” desak Yuri. Dokter itu menghela nafas, “sebaiknya segera menelepon keluarganya, mau menyuruh mereka mengurus formulir” ucap dokter itu. Yuri memutar bola matanya, dia mulai kesal, “arasou! Sekarang Soon Kyu gimana?!” tanya yuri mulai kehilangan kesabarannya.
“kepalanya terhantam cukup keras, dia kena gegar otak tapi tidak serius, tapi lebih baik terus memperhatikan dia. Dia sekarang sudah melewati komanya. Sekarang tinggal obat bius habis dan tunggu dia bangun. Tapi, aku menebak, dia tidak mungkin akan cepat bangun” jelas dokter itu.

Yuri mengerjap matanya, “wae?” tanya Yuri. “bukannya sudah kubilang. Dia kena gegar otak, walaupun tidak serius, tapi dia tidak mungkin cepat bangun” jawab dokter itu sopan. “aku masih ada pasien, permisi” pamit dokter itu. 

...

Yuri berjalan ke ruang pasien, 503, dimana dua sahabat yang tadi dirawat berada. 

Tok tok,
 “masuk” terdengar suara Eunhyuk dari dalam. Dengan pelan Yuri mendorong pintu itu. “annyeong, Hyuk” sapa Yuri, “Hae” sambung Yuri. Donghae tidak menoleh ke Yuri sedikit pun, dia sibuk melihat keluar, entah apa yang dilihat. Muka Yuri menjadi khawatir melihat Donghae. “tidak usah peduli dia” kata Eunhyuk yang tersenyum ke Yuri. 

“aku sudah menelepon mama Sunny, dia sekarang on the way” ucap Yuri. Mendengar ‘Sunny’ Donghae langsung menoleh ke Yuri, muka Eunhyuk menjadi murung. “Sunny... dia sekarang bagaimana?” tanya EunHae bersamaan, suara mereka lemah. Yuri menghela nafas, dia menceritakan apa yang tadi dokter itu bilang dengannya.

“kapan Sunny bangun ya?” tanya Donghae pada diri sendiri. “kamu sudah jenguk Sunny?” tanya Eunhyuk, dijawab dengan gelengan. “kita sama-sama pergi lihat yuk” ajak Yuri. Eunhyuk senyum dan mengangguk kepalanya. “kaja Hae” ajak Eunhyuk. Donghae dengan pelan turun dari ranjangnya. Eunhyuk menggandeng tangan Yuri menuju ruang Sunny. Diikuti Donghae yang dibelakang, matanya kosong, tapi benaknya semua Sunny.

...

Cklek, “hhu...hhu... hiksss”

Terdengar suara isakan, Eunhyuk membuka pintu lebih lebar. “ahjumma” panggil Eunhyuk. yang dipanggil, yaitu mama Sunny menoleh Eunhyuk. mukanya basah, “kenapa kalian tidak segera menelepon ku?!” bentak mama Sunny, emosi karena putri kesayangan kecelakaan tapi tidak dikasih kabar oleh dua sahabat putrinya itu.

“’jjeongmal mianhae, kita sendiri saja sudah kacau” ucap Eunhyuk, “mianhae” ucap Donghae, kemudian mereka dua membungkuk badan mereka. Mama Sunny menghela nafas letih, dia menggeleng kepalanya, “seharusnya kejadian seperti ini tidak boleh terjadi” gumam mama Sunny.

“ini semua salahku, meninggal dia di gerbang” jelas Donghae. Eunhyuk menghentikan Donghae, “karena aku sibuk pacaran aku jadi tidak punya waktu dan tidak pernah disisi Sunny” kata Eunhyuk. “kalau aku menyuruhnya ikut aku, kejadian ini tidak akan terjadi” jelas Donghae tidak mau kalah. “kalau aku meluangkan waktuku lebih lama disisi Sunny...”

“gwaenchana” potong mama Sunny. “Geundae...” ucap Donghae dan Eunhyuk bersamaan, “sudah, kejadian ini bukan salah kalian. Ini hanya... kecelakaan” kata mama Sunny pelan. Mama Sunny menghapus air matanya.

Mencoba tersenyum, senyum paksa. Digenggamnya tangan putrinya itu, yang terbaring lemas, mata tertutup. “sayang, cepat bangun. Chinguduel semua menunggu. Terutama Eunhyuk... dan Donghae. kamu dengar?” ucap mama sunny, bibirnya bergetar, tangannya yang bergetar juga membelai rambut Sunny yang pendek.
Donghae yang tidak tahan melihat orang yang sangat disayangnya itu terkulai lemas, air mata mengalir lagi. Dia terisak kecil, menutup matanya dengan lengannya, tidak peduli bajunya yang sudah basah semoga kalau kejadian ini hanyalah mimpi buruk. 

Berbagai selang dikeliling Sunny, begitu tersiksa melihat pemandangan ini bagi EunHae dan Yuri. Eunhyuk mendekat mama Sunny. Dia mengelus punggung mama Sunny, air mata sudah berkumpul di kelopak mata, pandangan kabur. “ahjumma, kamu kelihatan letih. Kamu pulang dan istirahatlah, aku suruh Yuri antar ya” saran Eunhyuk. “biar aku dan Donghae yang jaga” tawar Eunhyuk. tes, air mata akhirnya jatuh. Mama Sunny menggeleng kepalanya, tidak mau meninggali putri kesayangannya itu. “ahjumma, ayolah, biar aku dan Donghae yang jaga malam ini. Besok, baru gantian ahjumma” desak Eunhyuk. 

Sudah cukup sakit melihat orang kesayangannya terkulai lemas, tidak mau lagi ditambah seseorang yang sudah dianggap ibunya juga derita. “yuri” panggil Eunhyuk. yuri yang mematung dari tadi jalan mendekat. “tolong, bawa ahjumma pulang rumah ya, tidak keberatan kan kamu menjaganya sebentar” pinta Eunhyuk. Yuri menghapus air matanya yang tadi hendak mengalir, “arasou” balas Yuri. “ahjumma, pulanglah”
“kaja yo ahjumma. Biar Hyuk dan Donghae yang jaga ya” ucap Yuri. Perlahan akhirnya mama Sunny mau pulang, dia berdiri dari tempat duduknya. “hari ini merepotkan kalian” kata mama Sunny. Donghae yang masih menutup matanya hanya menjawab, “em” tanpa mau membuka matanya. “annyeong” kata Eunhyuk.

Blam.

Pintu tertutup, mama Sunny dan Yuri sudah pergi. Sekarang yang berada dikamar hanya ada Donghae, Eunhyuk, dan... Sunny. Donghae membuka matanya perlahan, pandangannya kabur tapi terlihat jelas Sunny yang berbaring. Donghae menjalan dekat, digenggamnya tangan Sunny, dikecupnya, “Sunny, cepat bangun. Kamu dengar?” ucap Donghae pelan, bibir yang masih menempel di tangan Sunny, mata yang masih sembab, muka yang basah.

Muka yang kacau tidak kalah dari Donghae, Eunhyuk menempel dahinya kedahi Sunny, “Sunny-ya, cepat bangun, setelah itu aku akan selalu disisimu, kamu dengar?” kata Eunhyuk, kemudian dikecupnya dahi Sunny.
Dalam 1 hari, terjadinya semua kejadian yang semua orang tidak mau terjadi. Tapi, terjadi juga.
Hanya satu permintaan, 

Sunny-ya, cepat bangun. Kamu dengar?

[to be continue]


spoiler I'll Always Be At Your Side, chp 12

..
 
Eunhyuk terus membaca. Membaca sampai halaman terakhir yang ditulis Sunny.

25 September
God! Kenapa Eunhyuk harus mengetahui alasan kenapa aku menghindarinya.
Sebelumnya semuanya seharusnya baik-baik saja. Dan begitu bodohnya aku mengatakan dengan entengnya. Hyuk, kamu tau. Ketika melihat punggungmu jalan menjauhiku. Ketika kamu mendoakan aku semoga aku menemukan laki lebih bagus dari mu dan tentu saja itu artinya kamu tidak mungkin bersamaku karena kamu sudah ada Yuri. Dan putuslah persahabatan kita yang sudah jaga bertahun-tahun.
Aku tau itu, tapi haruskah kamu bilang begitu. Tadi, ketika membantu mama masak. Aku mengambil alih memotong sayur. Ketika aku memegang pisau yang tajam itu, aku tujukan ke pergelangan tanganku. Ingin sekali mengakhir kehidupanku. Bagaimana kehidupanku tanpamu.
Saranghaeyo Eunhyuk. 

...

“tidak mungkin” 

I’m back Yuri. Do you miss me? I hope you like these flowers.
Love, Henry

...


No comments:

Post a Comment