Saturday, March 24, 2012

I'll Always Be At Your Side, chp:13

By: admin vz~

enjoy~

...
...
...
Seorang gadis sedang menopang dagu dan satu tangannya lagi sedang memain-mutar pensil mekanik berwarna kuning. Matanya menatap kedepan melihat papan, bisa dilihat perempuan itu seperti sedang serius mendengar ocehan-ocehan yang keluar dari gurunya itu.


Kalau lebih dekat, rupanya matanya menatap kedepan kosong, orangnya ada tetapi sepertinya pikirannya sedang melayang-layang. Tiba-tiba dia merasa tepukan pelan dibahunya. Dia melihat sekeliling melihat sebagian menghilang dan sebagian sedang bermakan ria. Sudah bel rupanya dan dia tidak tau karena sedang sibuk melamun.


Terasa lagi tepukan pelan, dia mendongak keatas dan rupanya teman sekelasnya memanggilnya, “ada apa Luna?” tanyanya.


“Yuri-ssi, Eunhyuk-ssi sudah menunggu didepan lo” jawab Luna sambil melirik ke luar dan berdirilah Eunhyuk bersandar didinding.


Yuri kemudian mengambil bekal makanan dari tasnya dan menggumamkan ‘thanks’ kepada Luna. Dan melesat pergi  mendekati Eunhyuk.


...


Seperti biasa, bel istirahat sudah berbunyi dan disni sekarang bersandar di dinding didepan kelas pacarnya, menunggu pacarnya sambil menunduk kepalanya dan kedua tangannya diselipkan disaku. Siswa-siswi yang memberi salam tidak dihiraukan, tapi mereka maklum karena pangeran mereka sedang mempunyai masalah makanya murung. Padahal biasanya akan dibalas dengan senyumannya yang charming itu.


Tap tap tap...


Eunhyuk mengangkat kepalanya dan menemukan pacarnya yang cantik itu sedang berdiri, sambil tersenyum manis. Dan, tangannya yang sedang memegang, bekal?


“Kamu tidak apa-apa?” tanya pacarnya lembut. Eunhyuk menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering. Kemudian dia menggeleng kepalanya pelan.


Yuri menghela nafas, kemudian tangannya meraih memegang pipi Eunhyuk yang terlihat, “benarkah? Kamu terlihat pucat lo, Hyuk” tanya Yuri lagi khawatir.


Pacarnya kelihatan pucat dari biasanya. Pacarnya terlihat lebih murung dari biasanya. Pacarnya terlihat sangat diam dari biasanya. Dan Yuri tidak menyukai itu.


Eunhyuk menjawab dengan anggukan kecil. Dia terasa malas dan berat untuk mengeluarkan suara walaupun cuman ucap beberapa kata saja.


Tangannya yang putih itu memegang tangan Yuri yang lembut dan putih itu yang sedang memegang pipinya dengan lembut. Dan menarik tangan Yuri dan menaruhnya ke bibirnya. Diciumnya dan dihirupnya aroma pacarnya itu. Begitu menenangkan.


Tetapi, dia lebih kangen aroma favoritnya itu. Sunny, aroma khasnya yang sangat menenangkan dan memabukkan. Begitu berbeda dengan aroma pacarnya ini. Dia begitu berharap perempuan yang dihadapannya ini bukan Yuri. Keterlaluan, tetapi dia sangat kangen dengan Sunny.


“Hyuk, aku buat bekal untuk kita berdua lo. Makan yuk, keburu masuk nanti” ucap Yuri pelan. Masih posisi tadi, Eunhyuk mengangguk kepalanya dan menggandeng tangan Yuri. Kemana? Kemana lagi kalau bukan atap, tempat kesukaan mereka untuk pacaran.


...


...


Seorang pemuda dengan muka baby facenya sedang berdiri disebuah pintu. Tangannya memegang kaleng yang merupakan minuman Pocari Sweat. Dia berdiri disana karena dia melihat dua teman baiknya sedang makan. Yuri dan Eunhyuk, kedua teman baiknya itu yang sudah pacaran sangat lama.
Tiba-tiba kakinya terasa berat untuk melangkah memasuki atap melihat Eunhyuk. tapi, daripada dibawah di kantin yang sangat ramai dan berisik itu. Mau tidak mau masuk juga.


...


Eunhyuk membuka matanya yang tadi dia tutupi dengan punggung tangannya. Dia mengerutkan dahinya melihat pemuda itu masuk. Bukannya dia tidak suka, ayolah, dia itu adalah sobatnya. Tetapi, entah lah, Eunhyuk sedang merasa tidak mau ketemunya.


“Donghae” panggil Yuri.


Pemuda itu, Donghae, melemparkan senyuman tipis kepada Yuri. Kemudian menoleh ke Eunhyuk yang menatap datar kearahnya. Begitu juga Donghae.


“sudah makan?” tanya Yuri.


Donghae menoleh ke arah Yuri lagi dan memberi senyuman tipis –lagi-, Donghae menggeleng kepalanya pelan. Yuri mengangkat sebelah alisnya, “kenapa belum?”


“tidak ada mood, Yuri” jawab Donghae kemudian jalan menuju pinggiran atap yaitu berdiri di sebelah Eunhyuk yang sedang duduk sambil menutup matanya.


Yuri terdiam, dia tau banget kenapa Donghae tidak ada mood makan. Siapa lagi kalau bukan ‘matahari’nya dengan Eunhyuk. Eunhyuk juga tidak ada mood makan, terlihat kali dari bekal yang susah-susah dibuat Yuri baru dimakannya seperempat.


“kamu akan menjenguk Sunny nanti?” tanya Donghae sambil menatap Eunhyuk.
Tau pertanyaan itu dilontarkan ke Eunhyuk, Eunhyuk tidak mau membuka matanya menatap mata Donghae. “tidak” jawab Eunhyuk singkat.


Donghae tidak bertanya lagi, dia diam dan menutup matanya. Menikmati hembusan angin yang dirasakan kulitnya itu. Lagi-lagi pikirannya melayang. Melayang ke...


“Sunny”


...


Sepeda Eunhyuk berhenti di sebuah rumah yang sederhana tapi terlihat nyaman itu. Yang dibelakang dengan elegan turun dari sepeda Eunhyuk. dia menyisir rambutnya yang terlihat agak berantakan dengan jari-jarinya itu.


“masuk sebentar dulu, Hyuk?” tanya Yuri.


Sudah biasa Yuri bertanya begitu, tapi semenjak kecelakaan yang dialami Sunny, dia tidak bertanya lagi. Karena setiap bertanya, Eunhyuk menolak dengan alasan ‘aku lelah’ atau ‘aku mau menjenguk Sunny’
Tapi mumpung tau tau dia hari ini tidak menjenguk Sunny, Yuri bertanya.


Tapi ajakan Yuri ditolak halus oleh Eunhyuk dengan senyuman yang sedikit dipaksakan dan gelengan kepala. “hari ini aku mempunyai bnyk pr yang harus dikerjakan” kata Eunhyuk.


Eunhyuk mengelus puncak kepala Yuri halus. Masih tersenyum, “kamu pasti lelah, hari ini kamu kebanyakan melamun lo, istirahatlah” ucap Eunhyuk lembut.


Semburat merah muncul di kedua pipi Yuri, Yuri tau pikirannya hari ini melayang. Tidak disangka, pacarnya yang kacau ini menyadarinya. Yuri senang pacarnya masih mengkhawatirnya.
Tangan besar Eunhyuk yang masih dipuncak kepala Yuri tiba-tiba mendorong kepala Yuri maju. Dan membuat Yuri mendekat ke arah Eunhyuk. jarak yang tipis, mata mereka bertemu. Perlahan jarak mereka menipis dan menipis, mata kedua insan itu tidak bisa mengalih pandangan mereka.


Yuri dapat merasakan hembusan nafas Eunhyuk. Yuri meneguk ludahnya, jantungnya sekarang berdetak tidak karuan, mudah-mudahan Eunhyuk tidak terdengar suara jantungnya. Perlahan, Yuri menutup matanya ketika merasa bibir Eunhyuk mendekat ke bibirnya.


Eunhyuk tersenyum tipis, dan ini bukan paksaan. Dia senang menggoda pacarnya ini, senang lagi melihat muka pacarnya ini. Dengan jahatnya, yang diharapkan Yuri malah tidak terjadi, Eunhyuk mendaratkan sebuah kecupan yang cukup lama didahi Yuri.


Merasakan bibir Eunhyuk yang menempel didahinya, mata Yuri melebar dan mukanya terasa amat panas, oh tidak. Bibir Eunhyuk kemudian mendekat ke telingat Yuri. “dasar nakal” bisik Eunhyuk dengan seksinya.
Yuri ingin sekali terjun dari laut ketika menyadari reaksinya yang sangat bodoh. Melihat wajah Yuri yang sangat merah melebihi stroberi kesukaannya, membuat Eunhyuk tertawa terbahak-bahak. Sudah lama tidak tertawa lepas semenjak kejadian itu. Terima kasih kepada pacarnya yang lucu dan enak digoda, Eunhyuk bisa tertawa.
...


Couple yang bermesraan tadi dan sekarang pacarnya salah satu tertawa lepas dan satu lagi yang mukanya sedang memerah tidak sadar. Tidak sadar bahwa, dari tadi, ada sepasang mata yang terus mengamati mereka.


Yang melihat terus mengerutkan dahinya, artinya bahwa dia sangat tidak suka pemandangan yang sedang dilihatnya sekarang. Kedua tangannya mengepal erat.


Dengan perlahan, dia jalan mendekat. “Yuri”


...


Tawa Eunhyuk terhenti dan menatap seorang pemuda yang sedang menatap datar kearahnya dan Yuri. Yuri menoleh ke arah sumber.


Tidak dapat disembunyikan oleh Yuri bahwa terkejutnya dia melihat yang dilihatnya sekarang.
Eunhyuk menatap bingung ke pemuda itu. Bingung lagi melihat raut wajah Yuri yang terkejut itu. “temanmu, Yuri?” tanya Eunhyuk.


“a...” “iya! dia... dia teman anak eommaku, dia pernah pergi jauh dan dia baru balik kayaknya, ya kan Henry?” potong Yuri cepat. Dia tidak tau apa yang akan dijawab pemuda itu yang bernama Henry tadi. Tapi dia tidak mau tau.


“kenapa kamu terkejut kali melihatnya?” tanya Eunhyuk bingung lagi. Yuri menatap Eunhyuk dengan senyuman canggung, “Henry ini teman baikku lo dari kecil, dia akhirnya balik ke Korea aku senang kali dan terkejut. Be...begitulah” jawab Yuri cepat, super cepat.


“kamu?” tanya Henry sambil menaik sebelah alisnya. Tangan Eunhyuk merangkul bahu Yuri mesra, “aku pacar Yuri, salam kenal. Hyuk Jae, tapi biasa dipanggil Eunhyuk” jawab Eunhyuk memperkenalkan diri.
Yuri menunduk kepalanya, dia tidak berani menatap Henry yang terlihat shock dengan jawaban Eunhyuk.
Eunhyuk melepas rangkulannya, dan siap-siap mendayung sepedanya jauh. “senang berkenalan dengan mu Henry, aku harus pergi sekarang. Bye” pamit Eunhyuk, sebelumnya dia mencium pipi Yuri yang menunduk.


...


Setelah Eunhyuk menjauh, Yuri jalan menuju pintu rumahnya. Dia tidak peduli Henry yang sedang menatap tajam kearahnya.


“aku tidak nyangka kamu cepatnya melupakan aku, Yuri” kata Henry pelan masih belum beranjak dari tempatnya.


“Hyuk Jae, dia masih belum tau tentang kita kan?” tanya Henry dengan suara agak meninggi.


Yuri terhenti. Dia membalik badannya yang tadi membelakangi Henry. dia mengerutkan dahinya, dadanya terasa sakit tiba-tiba. “kenapa...”


“kenapa kamu balik Henry?”


[to be continue]
 

Monday, March 12, 2012

I'll Always Be At Your Side, chp:12

by: adm vz
enjoyyy~


...
...
...

1 bulan sudah berlalu...
Tapi Sunny tidak juga bangun sampai sekarang. Matanya yang indah itu tertutup sempurna, senyumannya yang selalu terukir di wajahnya tidak terlihat. Tubuh Sunny tampak sangat tidak berdaya di tempat tidur yang ada di Rumah Sakit.

Dan keadaan Sunny tentu membuat teman-temannya yang menyanyanginya tersiksa. 

...

Pintu kamar rumah sakit Sunny terbuka pelan. Terdengar pula suara decitan yang tidak enak didengar. Masuklah lelaki dengan bahu yang lebar dan rambut berwarna blonde. Dia memasuki dengan muka datar matanya yang sayu menatap Sunny yang terlantar di tempat tidur. 

“sudah 1 bulan” gumamnya.

Dia menggertakan giginya. Melihat Sunny benar-benar menyakitkan hati dan matanya. “sudah 1 bulan. Tapi, kamu juga belum bangun. Mau sampai kapan mau menyiksa kami Sunny” suaranya meninggi.
Dia mengacak rambutnya frustasi. Baru menjatuhkan bokong ke kursi yang tersedia. Dia menghembus nafas pelan. Tangan kanannya meraih tangan Sunny dan tangan kirinya mengusap kepalanya pelan.
“jellba, jellbayo, cepatlah bangun” bisiknya sangat pelan, sampai suaranya tidak terdengar.
Tiba-tiba terdengar suara decitan pintu terbuka, Eunhyuk sama sekali tidak bergeming. Tatapannya kosong, didalam hati dia terus menyuruh Sunny cepat bangun.

...

Yang masuk menatap kedua temannya. Satu sedang terlantar, satu sedang stress dilihatnya. Dia tidak suka perubahan pacarnya. Semenjak Sunny kecelakaan, Eunhyuk menjadi murung. Dimana pacarnya yang berisik dan periang itu. Sudah diambil Sunny kah?

Dia berjalan mendekat, dia menaruh tangannya dibahu Eunhyuk. kemudian tangannya bergerak mengelus punggung Eunhyuk pelan. 

“Eunhyuk” panggilnya lembut.
Eunhyuk menutup matanya, dirasakan belaian Yuri yang membuatnya sedikit tenang. Tapi tidak cukup untuk membuatnya tidak khawatir pada Sunny.

“gimana kalau dia tidak bangun selamanya?” gumam Eunhyuk. Yuri tersentak. Kenapa tiba-tiba membuat pertanyaan ini.

“Eunhyuk-ya”

“bagaimana kalau ditidur panjangnya Sunny tiba-tiba saja... menghilang” Yuri dapat mendengar isakan Eunhyuk. tangan Yuri yang masih setia mengelus punggung Eunhyuk dapat merasakan tubuh Eunhyuk bergetar. 

Yuri menutup mata, dia tahu benar apa maksud Eunhyuk. “menghilang”

Sudah cukup Yuri merasa sakit hati melihat Sunny, sekarang tambah lagi kata-kata Eunhyuk. mata Yuri memerah dan air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya, melihat pacarnya yang begitu rapuh, seakan tidak lama lagi Eunhyuk akan roboh.

“bagaimana...” suara Eunhyuk meninggi. Sebelum dia dapat melanjutkan Yuri langsung menyambar memeluk Eunhyuk. membenam wajah Eunhyuk yang sudah basah di lehernya. Eunhyuk sedikit terkejut perbuatan Yuri tiba-tiba.

“Sunny-ya” bibir Yuri bergetar. Air mata mengalir begitu saja. “Sunny pasti bangun. Kita tinggal menunggu saja. Pasti, pasti sekali Sunny pasti akan bangun” kata Yuri sambil mengelus rambut Eunhyuk.
“dia tidak akan menghilang seperti yang kamu bilang. Dia... dia tidak begitu kejam tiba-tiba saja meninggalkan kita” tangisan Yuri menjadi-jadi. “dia pasti akan bangun, akan kembali di sisi kita, eommanya, dan kamu” kata Yuri mantap diantara isakannya.

Eunhyuk membalas pelukan Yuri. Dipeluknya Yuri erat, begitu juga sebaliknya. Eunhyuk menutup matanya rapat-rapat. “aku takut sekali...” air matanya mengalir dengan deras. Seperti air terjun yang terus mengalir kebawah.

“aku takut sekali kata-kataku akan menjadi kebenaran Yuri-ya” 

“aku takut” Eunhyuk tidak berhenti terus menggumam kata itu. 

...

Didepan pintu kamar rumah sakit Sunny. Berdirilah seorang pemuda yang tampan, wajahnya tampan tapi kelihatan kacau akibat airmatanya satu persatu menetes. Bibirnya bergetar. Tangannya menggengam sebuket bunga mawar kuning. Bunga kesukaan Sunny.

Orang-orang yang berlalu pasti berpikir dia orang gila. Didepan pintu, menangis, dan tiba-tiba saja terkekeh. Tertawa kecil. Tangannya menggengam sangat erat pada buket bunga mawar itu. 

Ingin sekali dia meninju wajah kebanggaan Eunhyuk. bisa saja Eunhyuk membuat kesimpulan begitu.
Tawa mereda, mulutnya tertutup rapat. Dia mengepal tangannya yang kosong erat, sangat erat dia sampai tidak memerdulikan kukunya yang lumayan panjang benam dikulit telapak tangannya. Dia pun berpikir demikian atas kesimpulan Eunhyuk.

Dia juga takut kesimpulan Eunhyuk akan menjadi kebenaran. Dia juga sempat berpikir begitu, tapi dibuangnya pikiran itu.

...

Dua teman baik yang sangat menyayangi Sunny begitu juga Sunny sangat menyayangi mereka. Bisa pula membuat kesimpulan yang menakutkan itu.

...

...

...

Eunhyuk memasuki kamar Sunny. Bisa dibilang lancang sekali memasuki kamar pemilik sementara pemilik lagi tidak ada. Karena pemiliknya sedang terlantar di rumah sakit. Setelah berhasil membuat kamar Sunny. Mata Eunhyuk tidak berhenti menjelajahi kamar Sunny.

Dua sudut bibirnya perlahan naik. Sudah lama dia tidak senyum. Dia melihat bayangan dirinya dan Sunny. Dia masih ingat waktu dia mengatakan Sunny cewek galak tidak manis alhasilnya Sunny ngambek (ada di chpter 1). Dia juga ingat ketika akhirnya dia diterima Yuri dia melupakan Sunny, dan tentu saja itu membuat Sunny marah habis-habisan dan menangis (ada di chpter 5).

Satu langkah dia memasuki wilayah kamar Sunny dia menutup pintunya pelan. Aroma khas Sunny perlahan menghilang karena sudah 1 bulan Sunny tidak ada di kamarnya. Dan di rumah sakit sama sekali tidak bisa mencium aroma khas Sunny karena dipenuhi aroma obat-obatan yang membuat hidung kita kurang nyaman.
Kaki Eunhyuk membawanya ke tempat tidur Sunny. Dibantingnya tubuhnya ke tempat tidur Sunny. Tangannya mengambil bantal Sunny dibuatnya menjadi guling kemudian di hirupnya dalam-dalam. Selalu saja aroma Sunny akan membuat Eunhyuk tenang,nyaman. 

Kemudian bayangan Sunny yang di rumah sakit datang begitu saja. Eunhyuk menggeram, dia membuat posisi tidurnya menjadi duduk. Diacaknya rambutnya frustasi kemudian menutup mukanya dengan kedua tangannya.
“Sunny” ucapnya lirih.

Mata Eunhyuk tiba-tiba menangkap sebuah buku kecil yang ada di meja rias dengan cover banyak love, khas cewek menurut Eunhyuk. Eunhyuk menuju meja rias kemudian diambilnya buku kecil itu. “buku diary” batin Eunhyuk. 

Kalau saja Sunny tau Eunhyuk membaca buku diarynya pasti Eunhyuk segera dikubur hidup-hidup. Dan tentu saja Eunhyuk tau resikonya. Tapi... dia sangat tergoda untuk membacanya. Lagipula salah Sunny sendiri membiarkan buku yang memenuhi rahasianya ditaruhnya begitu saja.
Eunhyuk mulai membuka halaman pertama Sunny.

...

21 June
Pertama kalinya aku menulis diary. Hmm. Aneh deh rasanya.
Ehm! Semua merasa senang sudah memasuki SMA. Semua orang bilang kehidupan SMA seperti di surga ya kecuali ujiannya yang lebih susah.
Tapi aku merasa tidak. Karena tadi pagi bisa saja teman baikku tidak menyadariku yang ada disampingnya karena sibuk bercanda ria dengan pacarnya. Dan pemandangan itu sangat sesak bagiku.
Dan ketika sudah menyadariku. Teman baikku mengkritik rambutku yang boyish. Not a good day for me.

Eunhyuk ingat betul kejadian ini. (chpter 8)

Eunhyuk terus membaca lembar demi lembar didalam diary Sunny. Terhenti lagi dan Eunhyuk membacanya dengan serius.

10 August
Muak, sakit, menyakitkan mata, menyakitkan telingaku!
Melihat kemesraan, kedekatan Yuri dan Eunhyuk. tentu saja aku senang mereka akrab dan mesra selayak orang pacaran.
Tapi, senangkah kamu ketika teman baikmu yang sudah menjadi pacar orang tapi kamu malah mencintainya.

Eunhyuk menghela nafas kasar. Dia ingin sekali waktu Donghae membentaknya mengatakan Sunny mencintainya itu adalah mimpi atau candaan. Tapi... ini...

Eunhyuk terus membaca. Membaca sampai halaman terakhir yang ditulis Sunny.

25 September
God! Kenapa Eunhyuk harus mengetahui alasan kenapa aku menghindarinya.
Sebelumnya semuanya seharusnya baik-baik saja. Dan begitu bodohnya aku mengatakan dengan entengnya. Hyuk, kamu tau. Ketika melihat punggungmu jalan menjauhiku. Ketika kamu mendoakan aku semoga aku menemukan laki lebih bagus dari mu dan tentu saja itu artinya kamu tidak mungkin bersamaku karena kamu sudah ada Yuri. Dan putuslah persahabatan kita yang sudah jaga bertahun-tahun.
Aku tau itu, tapi haruskah kamu bilang begitu. Tadi, ketika membantu mama masak. Aku mengambil alih memotong sayur. Ketika aku memegang pisau yang tajam itu, aku tujukan ke pergelangan tanganku. Ingin sekali mengakhir kehidupanku. Bagaimana kehidupanku tanpamu.
Saranghaeyo Eunhyuk. 

25 september, pertama kalinya Sunny tulis begitu panjang dan begitu menyakitkan di dadanya. Eunhyuk tampak terkejut dia langsung menutup buku diary Sunny dan dilemparnya ke meja rias asalan. Seperti buku itu adalah buku kutukan.

Dia terkejut. Dia menutup telinganya, dia mendengar suara Sunny yang membaca buku diarynya ketika tanggal 25 september. Dia tidak bisa membuang suara Sunny yang terus membaca dalam benaknya. Begitu menakutkan.

Terakhir kalinya Sunny tulis. Seperti terakhir kalinya Sunny tulis dan... poof! Menghilang begitu saja.
Eunhyuk duduk di sofa kecil yang ada didepan meja rias Sunny. Lagi-lagi air matanya mengalir, dia meremas rambutnya frustasi. Dia marah, benci pada dirinya. Dia marah karena tidak bisa membuat Sunny senang, dia benci dirinya karena selama ini dia membuat Sunny sakit hati.
Memang Eunhyuk termasuk kategori laki cengeng, begitu juga Donghae. dia tidak peduli. Sekarang dia ingin menumpah semuanya. SEMUANYA.

...
...

“aku pulang” kata Yuri sampai didalam rumahnya. Dia mengganti sepatu sekolahnya dengan sandal rumah membentuk panda kesukaanya menuju rumah. Dia merasa lelah sekali hari ini.

“Yuri” panggil seorang wanita separuh baya. Yuri menoleh kepalanya menatap wanita itu, “eomma” sahutnya. “tadi ada orang mengantar bunga. Dan sudah kutaruh dikamarmu” jelas eomma Yuri. Raut wajah Yuri penuh kebingungan, “dari siapa?” tanyanya. Eomma Yuri menaikkan bahunya. “lihat saja sendiri. Eomma tidak membaca kartu yang ada dibunga itu” jawab eommanya kemudian balik sibuk didapur.

Dahi Yuri berkerut. Dari siapa pikirnya, tidak mungkin dari Eunhyuk melihat pacarnya sangat kacau sekarang mana mungkin ada waktu menjadi romantis. Daripada sakit kepala memikir siapa yang kirim bunga itu Yuri segera menuju kamarnya.

...

Mata Yuri melebar melihat satu keranjang berisi beraneka bunga yang didalamnya. Senyuman berkembang, dia menatap takjum bunga keranjang itu. Sekarang kamarnya berisi aroma wangi bunga.
Kemudian mata Yuri menangkap sebuah kartu berwarna biru paster. Dibacanya tulisan yang terdapat di kartu itu. Seketika Yuri tidak percaya ini. Yuri terus menggeleng kepalanya.

“tidak mungkin” 

I’m back Yuri. Do you miss me? I hope you like these flowers.
Love, Henry

[to be continue]